Senin, 19 Maret 2012

"MASSAGE FOR MY CAMPUS AKPAR MATARAM"




AKPAR selalu memberikan yang terbaik untuk kita semua , demi mencapai suatu tujuan yang akan ditingkatkan untuk kedepannya nanti...
semoga AKPAR ini tetap dalam proses perkembangan dalam bangunan yang telah dibangun.
...
Tidak, kusesalkan bila kuharus mencapai harapan yang lebih tinggi untuk kedepannya natnti diAKPAR ini..
AKPAR adalah rumah keduaku tempat-ku menuntut ilmu , dimana semua para dosen-dosen telah berusaha memberikan yang terbaik untuk kita semua agar kami dapat mencapai cita-cita dan harapan untuk masadepan kami nanti....
selain rumah kedua ,AKPAR tersebut adalah tempat kita bermain dimana pada saat perkuliahan diliburkan mahasiswa bebas melakukan aktivitas apa saja seperti diadakannya senam pagi pada hari jumat, dan pertemuan antar pariwisata lainnya ataupun kegiatan extrakulikuller lainnya....
....dimana, AKPAR ini memang sangat indah dengan melihat bangunan-bangunan yang dikelilingi dengan taman yang sangat luas itulah AKPAR MATARAM ....

Pesan : Semoga wisuda'ku selesai pada waktunya agar ku bisa melakukan aktifitas dan kegiatan lainnya untuk dapat membahagiakan kedua orang tuaku....
setelah saya tamat nanti semoga bangunan AKPAR ini cepat diselesaikan dan secepatnya dibuka S1....
agar para mahasiswa lainnya nanti dapat melanjutkannya lagi untuk dapat memiliki gelar yang lebih baik dan dapat dipandang orang menjadi mahasiswa SUKSES.....Astungkareee....!!!!!
saya harap adek-adek tingkat dapat memberikan dan dapat mengembangkan dunia pariwisatanya di AKPAR ini ...


 AKADEMI PARIWISATA MATARAM " IS THE BEST MY CAMPUS"
THANK YOU VERY MUCH MY FRIEND AND MY DOSEN"....

hehehe..........!!
semoga nilaiku bagus....!! *_*



SEJARAH PERKEMBANGAN HOTEL

SEJARAH PERKEMBANGAN ‘’HOTEL’’

Hotel berasal dari kata hostel, konon diambil dari bahasa Perancis kuno. Bangunan publik ini sudah disebut-sebut sejak akhir abad ke-17. Maknanya kira-kira, "tempat penampungan buat pendatang" atau bisa juga "bangunan penyedia pondokan dan makanan untuk umum". Jadi, pada mulanya hotel memang diciptakan untuk meladeni masyarakat.
Tak aneh kalau di Inggris dan Amerika, yang namanya pegawai hotel dulunya mirip pegawai negeri alias abdi masyarakat. Tapi, seiring perkembangan zaman dan bertambahnya pemakai jasa, layanan inap-makan ini mulai meninggalkan misi sosialnya. Tamu pun dipungut bayaran. Sementara bangunan dan kamar-kamarnya mulai ditata sedemikian rupa agar membuat tamu betah. Meskipun demikian, bertahun-tahun standar layanan hotel tak banyak berubah.
Sampai pada tahun 1793, saat City Hotel dibangun di cikal bakal wilayah kota New York. City Hotel itulah pelopor pembangunan penginapan gaya baru yang lebih fashionable. Sebab, dasar pembangunannya tak hanya mementingkan letak yang strategis. Tapi juga pemikiran bahwa hotel juga tempat istirahat yang mumpuni. Jadi, tak ada salahnya didirikan di pinggir kota.
Setelah itu, muncul hotel-hotel legendaris seperti Tremont House (Boston, 1829) yang selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu tempat paling top di Amerika Serikat (AS). Tremont bersaing ketat dengan Astor House, yang dibangun di New York, 1836. Saat itu, hotel modern identik dengan perkembangan lalu lintas dan tempat beristirahat. Saat pembangunan jaringan kereta api sedang gencar-gencarnya, hampir di tiap perhentian (stasiun) ada hotel.
Maksudnya jelas, untuk mengakomodasi orang-orang yang baru saja bepergian dengan kereta api. Karena masa itu naik kereta api sangat melelahkan, hotel-hotel pun "dipersenjatai" berbagai hiburan pelepas penat. Hotel jenis ini, diembeli-embeli dengan kata "transit", karena memang ditujukan buat para musafir.
Seiring dengan berkembangnya teknologi dan makin luasnya jangkauan angkutan darat (terlebih setelah ditemukannya kendaraan bermotor), kawasan sekitar rel kereta api tak lagi menarik minat para investor.
Orang kemudian lebih suka jalan-jalan pakai mobil ketimbang kereta. Kepopuleran hotel transit pun tersaingi oleh kehadiran "motel", gabungan kata "motor hotel" alias tempat istirahat para pengendara kendaraan bermotor.
Kejayaan motel tak berlangsung lama. Seiring makin pesatnya perkembangan kota, berakhir pula era motel. Terutama karena letaknya yang agak di pinggir kota dan fasilitasnya yang kalah bagus dengan hotel di pusat kota. Kalaupun terpaksa bermalam di kawasan pinggiran, motel harus bersaing dengan hotel resort, yang banyak tumbuh di tempat-tempat peristirahatan.
Selain hotel, resort, anak-anak kandung hotel yang lahir di era 1990-an tak kalah hebatnya. Sebut saja berbagai extended-stay hotel, khusus buat tamu yang membutuhkan tempat menginap minimal lima malam. Sedangkan pelaku bisnis yang harus bernegosiasi di kampung atau negeri orang, bisa mencari hotel apartment. Di Amerika, dua jenis hotel ini berkembang sangat pesat.
Di Indonesia, kata hotel selalu dikonotasikan sebagai bangunan penginapan yang cukup mahal. Umumnya di Indonesia dikenal hotel berbintang, hotel melati yang tarifnya cukup terjangkau namun hanya menyediakan tempat menginap dan sarapan pagi, serta guest house baik yang dikelola sebagai usaha swasta (seperti halnya hotel melati) ataupun mess yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan sebagai tempat menginap bagi para tamu yang ada kaitannya dengan kegiatan atau urusan perusahaan.
Bilamanakah cikal bakal penginapan ini dimulai belumlah ada suatu kepastian. Namun yang dapat diketahui adalah bahwa cikal bakal tempat penginapan ini adalah rumah makan tempat persinggahan yang kemudian berkembang menjadi tempat penginapan. Dari buku-buku sejarah diketahui bahwa Abad ke 18 sebelum Masehi telah diperlukannya penginapan untuk para pedagang yang datang dari jauh yang disebut dengan Hammurabi Pada abad pertama sekitar tahun 79 sebelum kota Pompeii dan Herculaneum di Selatan Italia, masih dapat dilihat peninggalannya setelah terkubur akibat meletusnya Gunung Vesuvius. Sekitar 118 bar dan rumah makan dapat di-indentifikasikan. Pada jaman itu dikenal dengan sebutan hospiteum, caupona, popina, thermopoliums dan tabernas Di-abad ke 3 kekaisaran Romawi dibawah kekuasaan Kaisar Theodosius mendirikan tempat persinggahan untuk beristirahat dan menginap. Penginapan masih dalam bentuk penyewaan sebuah kamar. Di Jeman dan Negeri Belanda dikenal dengan sebutan dengan sebutan Herberg di Inggris disebut Inn. Sedangkan di Indonesia dikenal istilah pasanggrahan .
Hospiteum dan caupano merupakan cikal bakal dari hotel yang menyediakan penginapan, makanan dan minuman anggur. Tabernas merupakan cikal bakal dari bar yang dikenal sekarang ini. Tempat ini biasanya dijadikan pula sebagai tempat perjudian dan pelacuran
Thermopoliums merupakan cikal bakal dari yang dikenal sekarang sebagai snack-bar. Ditempat ini dijual minuman anggur panas dan makanan ringan yang ditata diatas meja marmer. Sedangkan popina merupakan cikal bakal yang dikenal sekarang sebagai restoran, yang hanya menyajikan hidangan panas dan berat saja.
Tidaklah mengherankan apabilah istilah hospitality yang artinya tempat menginap yang ramah dan menyenangkan ini berasal dari bahasa Latin hospitium yang mempunyai kaitan dengan kata host, hospice, hostelry dan hotel.

Bilamanakah cikal bakal penginapan ini dimulai belumlah ada suatu kepastian. Namun yand dapat diketahui adalah bahwa cikal bakal tempat penginapan ini adalah rumah makan tempat persinggahan yang kemudian berkembang menjadi tempat penginapan. Dari buku-buku sejarah diketahui bahwa Abad ke 18 sebelum Masehi telah diperlukannya penginapan untuk para pedagang yang datang dari jauh yang disebut dengan Hammurabi Pada abad pertama sekitar tahun 79 sebelum kota Pompeii dan Herculaneum di Selatan Italia, masih dapat dilihat peninggalannya setelah terkubur akibat meletusnya Gunung Vesuvius. Sekitar 118 bar dan rumah makan dapat di-indentifikasikan. Pada jaman itu dikenal dengan sebutan hospiteum, caupona, popina, thermopoliums dan tabernas Di-abad ke 3 kekaisaran Romawi dibawah kekuasaan Kaisar Theodosius mendirikan tempat persinggahan untuk beristirahat dan menginap. Penginapan masih dalam bentuk penyewaan sebuah kamar. Di Jeman dan Negeri Belanda dikenal dengan sebutan dengan sebutan Herberg di Inggris disebut Inn. Sedangkan di Indonesia dikenal istilah pasanggrahan .
Hospiteum dan caupano merupakan cikal bakal dari hotel yang menyediakan penginapan, makanan dan minuman anggur. Tabernas merupakan cikal bakal dari bar yang dikenal sekarang ini. Tempat ini biasanya dijadikan pula sebagai tempat perjudian dan pelacuran
Thermopoliums merupakan cikal bakal dari yang dikenal sekarang sebagai snack-bar. Ditempat ini dijual minuman anggur panas dan makanan ringan yang ditata diatas meja marmer. Sedangkan popina merupakan cikal bakal yang dikenal sekarang sebagai restoran, yang hanya menyajikan hidangan panas dan berat saja.
Tidaklah mengherankan apabilah istilah hospitality yang artinya tempat menginap yang ramah dan menyenangkan ini berasal dari bahasa Latin hospitium yang mempunyai kaitan dengan kata host, hospice, hostelry dan hotel.



PROFIL WISATAWAN INDONESIA

‘’PROFIL WISATAWAN’’

Profil wisatawan mempunyai latar belakang dari seseorang yang akan berkunjung ke obyek wisata untuk menelusuri semua keindahan alam dari tempat-tempat wisata yang berikthisar dari berbagai macam yang terdapat dalam tempat wisata tersebut.
Profil wisatawan ini sangat penting dan sangat perlu kita ketahui untuk mencari tau apaa sebenernya tempat’’ wisata yang kita kunjungi tersebut.Selain ithu kita dapat mengetahui dan mengenal tentang dunia pariwisata agar dapat dipelajari oleh semua orang dan pihak-pihak yang bertujuan dalam bidang pariwisata tersebut,terutama yang ‘’eye contack’’secara langsung dengan tamu agar dapat memberikan pelayanan prima kepada tamu sehingga tamu memiliki kesan yang baik dan merasa diberikan suatu kenangan yang indah terhadap dirinya sesuai dengan apa yang diinginkannya.Hal ini juga dapat memberikan keuntungan bagi banyak pihak yang masuk dalam dunia pariwisata ini.

Adapun Profil Wisatawan ini,mempunyai beberapa aspek yang perlu untuk diperhatikan,yaitu :
1.   Demografi…
Demografi ini berkaitan dengan kependudukan asal muasal dari dunia pariwisata ithu sendiri.Bila kita mengetahui dengan adanya demografi tersebut maka seorang pelaku wisata dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan apa yang didapatkannya.
2.   Pendidikan…

Pendidikan tamu perlu juga kita ketahui karena dari situ kita dapat menyesuaikan diri dengan tamu.Biasanya tamu yang berkependidikan yang lebih merasa dirinya selalu mampu dalam segala hal ini tidak mementingkan apapun yang akan terjadi karna tamu tersebut lebih dapat menjaga imagenya,karena dya merasa dirinya lebih pintar dan sebabnya kebanyakan tamu tidak mau ikiut bergabung dengan yang lainnya.Untuk itu sepintar-pintarnya pelaku wisata untuk membuat tamu yang lain selalu merasa enjoy dan tidak ada kesenjangan social.

3.   Motivasi…
Suatu motivasi atau keinginan yang selalu timbul dari dorongan suatu apa saja yang menimbulkan hal positif ini dapat dilakukan dari para pelaku wisatawan ,Motivasi terdapat dua sifat, yaitu :
*      Motivasi yang bersifat intrinsic,
Yaitu :Suatu dorongan dari dalam diri seperti minat kita,pikiran kita,( hobby )
*      Motivasi yang bersifat Extrinsik,
Yaitu :Suatu dorongan yang terdapat dari luar pikiran ,seperti dorongan dari teman yang memotivasikan kita untuk melakukan segala hal yang belum pernah kita kembangkan dalam diri kita.Atau dari contoh kita pernah membaca buku tentang objek wisata dari sana kita berkeinginan untuk ingiin mengetahui apa yang terdapat dalam tempat wisata tersebut sehingga kita merasa tertariik untuk mengunjunginya.

4.   Jenis Kelamin…
Perlunya seorang pelaku wisata atau tamu yang akan mengetahui dan mengerti jenis kelamin agar dya bias memberikan suatu pelayanan yang pas/sesuai :
Excample :Untuk tamu wanita,seorang pelaku wisata bisa memberikan pelayanan yang istimewa dan lebih menjaga serta memperhatikan tamu tersebut.Tapi Bukan berarti tamu Laki-laki diabaikan namun yang lebih istimewa ithu tamu wanita ( lady is first ).
Sedangkan, untuk tamu yang masih dibawah umur atau anak-anak pelaku wisata harus bisa memberikan pelayanan yang berkesan untuk menarik perhatian sii anak.Karena kita sebagai seorang pramu wisata haruus memiliki kesiapan untuk membantu siapapun agar para tamu tidak merasa kurang diperhatikan sehingga tamu tidak lagii berkeinginan untuk kembali lagi menelusuri tempat wisata yang kita kembangkan ini.Dengan begitu kita sebagai pelaku wisata akan mendatangkan keuntungan bagi pihak yang bertanggung jawab dalam dunia entertain pariwisata ini.

5.   Confiden/sikapnya…

Kita sebagai pihak pelaku wisata haruus menjaga sikap terhadap para tamu yang berkunjung.Seperti bagaimana cara kita menyapa tamu agar tamu merasa sangat lebih dipentingkan.karena tamu tersebut adalah modal kita untuk lebih mengembangkan dunia pariwisata yang kita kembangkan dan kita harus dapat menjelaskan profil dari wisata itu sehingga tamu juga dapat mengetahui asal usul dari pariwisata tersebut.
Kita sebagai pelayan  harus peka terhadap confiden kita kepada tamu harus lebih menjaga image kita didepan tamu agar tamu tidak menilai kita sebagai orang yang tidak punya sopan-santun/ (honesty/keramah tamahan).








Dari makalah yang dapat saya presentasikan tersebut diatas ,terdapat suatu kesimpulan yaitu :
 bahwa profil wisatawan tersebut memang sangat penting kita ketahui selain untuk kita hanya untuk merefresingkan diri, dapat juga mengetahui asal usul dari perkembangan dunia pariwisata.Sehingga tamu menjadii tau tentang adanya tempat pariwisata tersebut.

PELUANG DAN TANTANGAN INDUSTRI LOMBOK

              Peluang dan tantangan...
IndUstri LombOk.*)
Industri pariwisata saat ini mulai bangkit dari keterpurukan. Di samping jumlah wisatawan yang makin meningkat, saat ini telah terjadi perubahan pola konsumsi dari para wisatawan. Mereka tidak lagi terfokus hanya ingin santai dan menikmati 3 S (sun,sea and sand), namun pola konsumsi mulai berubah ke jenis wisata yang lebih tinggi yakni menikmati produk atau kreasi budaya (culture), peninggalan sejarah (heritage) dan alam (nature) dari suatu daerah atau negara.





Perubahan pola wisata ini perlu segera disikapi dengan berbagai strategi pengembangan produk pariwisata maupun promosi baik dari pemerintah maupun swasta. 

Produk pariwisata yang banyak diminati dan berkembang di masa mendatang salah satunya adalah ekowisata (I Gede Ardika, 2006). Tren ekowisata saat ini semakin meningkat seiring dengan semakin banyaknya manusia yang ingin kembali ke alam (back to nature).
Potensi Wisata Pulau Lombok
Pulau Lombok merupakan salah satu daerah destinasi wisata di Indonesia memiliki keanekagaraman hayati yang sangat tinggi, keunikan dan keaslian budaya tradisional, peninggalan sejarah, bentang alam yang indah, gunung berapi, cagar alam, taman nasional dan pantai berpasir putih, berpeluang besar bagi pengembangan ekowisata (ecotourism) sebagai sumber devisa.

Sebagai modal pengembangan ekowisata, daerah ini memiliki berbagai potensi antara lain: Taman Nasional Gunung Rinjani, terletak di Lombok bagian utara dengan luas area taman 41.330 ha, dan dikelilingi oleh kawasan hutan lindung sekitar 51.500 ha. Keindahan danau Segara Anak seluas 1.156 ha dalam perut gunung Rinjani menyimpan banyak misteri dan mampu menyihir sekitar ribuan wisatawan asing dan domestik setiap tahun untuk mendaki gunung yang berketinggian 3.726 m dari permukaan laut ini. Di sekitar lereng gunung Rinjani terdapat lahan perkebunan dan pertanian yang membentang luas dengan beberapa sumber air terjun yang mempesona. Berbagai jenis flora dan fauna langka dapat dijumpai di sekitar kawasan ini. Tak pelak lagi, gunung Rinjani menjadi incaran pencinta petualangan alam bebas dan memenuhi persyaratan untuk kegiatan ekowisata.




Pemandangan alam yang fantastis dapat ditemukan di kawasan hutan Pusuk. Berlokasi di bukit sebelah timur Malimbu merupakan rumah bagi 2 spesies kera dan strategis untuk kegiatan wisata alam seperti camping, napak tilas menyusuri bukit dan lembah-lembah dengan mata air yang jernih.
Di bagian utara Suranadi terdapat hutan lindung Sesaot. Kawasan ini termasuk area konservasi alam, banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon besar dan memiliki pemandangan alam yang alami serta sumber mata air yang jernih. Tempat ini merupakan habitat bagi kera dan berbagai jenis burung, menjadi pilihan utama bagi para pengunjung untuk jenis wisata alam, haking, dan bersantai sambil menikmati pemandangan hamparan kebun rambutan dan kopi. Tak jauh dari tempat ini terdapat taman Narmada, memiliki keunikan tersendiri sesuai dengan latar belakag sejarah. Taman ini di kelilingi oleh bentang sawah dan kebun buah-buahan penduduk setempat, memenuhi persyaratan untuk kegiatan wisata alam dan budaya.

Kawasan lain yang berpontesi adalah Bangko-Bangko. Berlokasi di ujung barat daya pulau Lombok, tempat ini memiliki hutan alam yang masih perawan dan menjadi rumah bagi sebagian besar flora dan fauna Lombok. Objek wisata Gili Lawang, Sulat, dan Petangan yang berada di timur laut Lombok juga layak untuk dikembangkan karena kawasan ini dihuni oleh berbagai macam kera dan spesies burung langka, hutan bakau (mangrove), terumbu karang yang terhampar luas.
Air terjun Jeruk Manis dan Otak Koko Gading juga sangat berpotensi untuk dikembangkan karena letaknya berdampingan dengan hutan alam. Tidak jauh dari tempat ini, terdapat kawasan wisata Tete Batu. Kawasan ini berlokasi dalam areal lembah gunung Rinjani, memiliki pemandangan yang sangat indah. Berbagai aktifitas ekowisata dapat dilakukan disini, seperti berenang di sungai yang berkelok-kelok dan traking menyusuri kaki gunung Rinjani sambil melihat hamparan tanaman padi dan tembakau penduduk lokal, menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Peluang, Tantangan dan Harapan
Dalam pengembangan kegiatan pariwisata alam terdapat peluang dan tantangan, baik berkaitan dengan masalah ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

 Secara ekonomi, pengembangan ekowisata dapat memberi keuntungan bagi masyarakat lokal di sekitar lokasi tujuan wisata, menyediakan kesempatan kerja dan mendorong perkembangan usaha-usaha baru. Dengan pengelolaan yang terpadu, ekowisata berpotensi untuk menggerakkan ekonomi nasional dan mensejahterakan masyarakat di sekitar kawasan wisata.
Potensi daerah, pengetahuan operator ekowisata tentang pelestarian lingkungan, partisipasi penduduk lokal, kesadaran wisatawan akan kelestarian lingkungan serta regulasi pengelolaan kawasan ekowisata baik di tingkat daerah, nasional dan internasional adalah faktor yang menentukan keberhasilan ekowisata.
Satu hal yang tidak boleh diabaikan berkaitan dengan ekowisata adalah pelestarian lingkungan dan penghargaan atas budaya setempat. Dalam konteks ini, wisatawan dapat diajak untuk mengunjungi bahkan terlibat dalam kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat setempat, seperti memancing, menumbuk padi, atau membuat barang kerajinan. Donasi dalam bentuk dana yang diberikan oleh wisatawan dapat dikelola dan diarahkan untuk mendorong kegiatan pengembangan ekonomi masyarakat lokal. Aspek pelestarian lingkungan dan penghargaan atas budaya setempat merupakan bagian dari dampak non ekonomi. Dengan adanya kunjungan wisata dan masukkan unsur pemberdayaan yang tepat, maka pola-pola perilaku negatif seperti penebangan hutan secara liar, perburuan hewan langka, dan pertambangan liar dapat direduksi.
Denyut wisata alam yang makin semarak akan menggembirakan semua pihak. Namun peningkatan industri pariwisata berpotensi terhadap kerusakan alam. Pembukaan daerah rekreasi, wisata alam, wisata bahari dan berbagai wisata minat khusus dan aktifitas wisatawan di laut seperti berperahu, snorkling, diving, dan surfing dapat menyebabkan kerusakan lingkungan pesisir, laut, flora dan fauna yang dapat berakibat buruk bagi keberlangsungan ekosistem setempat seringkali ditimbulkan oleh para wisatawan secara sadar maupun tidak. Langkanya beberapa spesies binatang juga diakibatkan oleh permintaan dan penjualan barang-barang suvenir yang dibuat sesuai dengan keunikan suatu kawasan melalui keunikan benda budaya, flora dan fauna di suatu kawasan konservasi dapat memberikan dampak kepada kerusakan alam.


Dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat lokal yang tinggal di suatu kawasan wisata adalah pencemaran lingkungan. Sampah yang ditinggalkan wisatawan, kebutuhan air bersih yang meningkat, kepadatan lalu lintas yang menyebabkan pencemaran/polusi udara dan kebisingan adalah beberapa masalah yang mungkin akan timbul. Pencemaran air semakin meningkat sebagai akibat penggunaan pestisida, pupuk dan bahan kimia lainnya dalam upaya meningkatkan keindahan fasilitas kepariwisataan (hotel, lapangan golf, dan kolam renang).

Dampak negatif ini perlu mendapatkan perhatian khusus dan ditanggulangi oleh stakeholder seperti pemerintah, masyarakat, pelaku bisnis, LSM maupun Lembaga Internasional terkait. Dengan adanya ekowisata diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian alam.
Pemerintah Daerah berkewajiban melakukan koordinasi, perencanaan, pelaksanaan serta monitoring pengembangan obyek dan daya tarik wisata alam. Sektor swasta juga harus berperan aktif dalam pengembangan ekowisata karena produk ekowisata di tingkat dunia telah berkembang sangat pesat, sementara diversifikasi produk wisata Indonesia berjalan sangat lamban. Lombok sebagai destinasi wisata harus mempunyai komitmen yang kuat untuk menjaga kelestarian alam.


 Dengan bentang alamnya yang indah, keanekaragaman hayati dan budayanya, Lombok dapat menjadi trendsetter dalam pengelolaan ekowisata di Indonesia.
Industri pariwisata dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah tujuan wisata. Model pengembangannya harus ramah lingkungan dan memberdayakan masyarakat lokal secara sosial, ekonomi, dan budaya. Perpaduan antara pemanfaatan dan perbaikan sumber daya alam perlu dipertimbangkan, agar generasi yang akan datang masih dapat merasakan nikmatnya dunia pariwisata Lombok.




Analisis SWOT : Tantangan Menjadikan Bugbug Kawasan Wisata
PDF
Cetak
Surel

Ditulis oleh I Wayan Ardika   
Sabtu, 30 Januari 2010 22:26
 Sesuai Perda No 8 Tahun 2003, yakni penetapan Kawasan Pariwisata Candidasa yang membentang dari Pantai Bias Tugel (Desa Padang Bai) ke arah Timur sampai Pantai Jasri Kelod, sepanjang 24 kilometer dengan kedalaman 1 kilometer dari garis pantai. Luas efektif Kawasan Pariwisata Candidasa adalah 2400 Hektar. Potensi investasi di wilayah ini adalah Pantai Padang Bai, Pantai Buitan - Sengkidu, Pantai Candidasa, Pantai Bias Putih Bugbug. Berkenaan dengan pengembangan Pariwisata di wilayah Bugbug, terlepas setuju atau tidak setuju atas keputusan yang sudah diambil atas dikontrakkannya Kawasan Pantai Bias Putih dan Tempek Nyuh Rawit di kaki Bukit Gumang, dan telah beroperasinya Tambak Udang terbesar di Asia Tenggara yang mengambil lokasi di Pasujan (sisi tenggara kaki Bukit Gumang),


 ada baiknya kita kaji kembali, bagaimana proyek-proyek ini dapat memberikan dampak ikutan yang memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan Masyarakat Bugbug secara umum.
Desa Pekraman Bugbug tentu telah membentuk sebuah team yang menangani kontrak kerjasama dengan investor. Sebelum keputusan itu diambil barangkali juga telah melaksanakan pengkajian-pengkajian secara mendalam guna mengantisipasi berbagai dampak ikutan baik yang menguntungkan maupun merugikan masyarakat Bugbug itu sendiri.

Bolehlah tulisan ini dapat dianggap sebagai nasikin segara atau ngajahin bebek ngelangi, tak apalah, bila dibilang begitu, anggap saja sebagai sebuah pengayaan atas berbagai pemikiran yang tentu sudah dimiliki oleh para intelektual di internal Prajuru Desa Pekraman Bugbug.  Penulis mencoba membedah dan mengurai berbagai hal menurut cara pandang penulis yang sangat terbatas ini mengenai pengembangan kawasan wisata di Desa Pekraman Bugbug dari sisi Strengthness, Weakness, Opportunity, and Threatness atau lebih dikenal dengan istilah SWOT . Yaitu sebuah cara analisa yang mencoba mengurai suatu keadaan atau permasalahan berdasarkan kelebihan atau kekuatan, kelemahan, kesempatan atau peluang, dan tantangan sehingga didapatkan sebuah perbandingan dan nilai-nilai dominan yang dipakai untuk memetakan suatu keadaan.  Penulis dalam hal ini sengaja tidak memaparkan solusi apa yang bisa dipakai untuk menangani berbagai kelemahan dan tantangan pengembangan kepariwisataan di Bugbug. Tulisan ini diharapkan segera dapat mengidentifikasi berbagai tantangan yang sangat mungkin untuk dihadapi, sehingga pameo disubane keluh mara nyemak sepit tidak terbukti.


STRENGTNESS ( KEKUATAN )
Warisan alam yang mengingatkan para penikmat plesiran kawasan ini mirip Kawasan Kuta tempo dulu, adat-istiadat dan tradisi Bugbug merupakan jaminan bagi setiap wisatawan untuk mengagumi Bugbug. Betapa tidak, hamparan alam yang walau tidak begitu menghijau di musim kemarau, pantai yang putih menawan, upacara adat yang tiada henti, seakan melengkapi detak-detik denyut nadi kehidupan masyarakat Bugbug yang tentu menjadi konsumsi yang menarik orang luar dan wisatawan untuk 'menikmati' Bugbug. Obyek wisata yang menarik : Adanya warisan Pura Puseh yang memiliki keunikan arsitekturnya juga memiliki daya tarik tersendiri (walaupun ada beberapa pula lainnya yang sudah mengalami pemugaran), Candidasa, Pasir Putih, upacara adat hampir sepanjang tahun, sekaha gong dengan seni tabuhnya, seniman tari, sekaha gong wanita, Tari Wali yang dapat disaksikan ketika usaba, keunikan tata ruang palemahan di Bugbug.  Jumlah penduduk dan generasi muda yang boleh dibilang semakin banyak berorientasi untuk menggeluti dunia kerja jasa pelayanan wisata baik untuk komoditi di dalam negeri maupun luar negeri, dapat men-supplay demand akan tenaga kerja dibidangnya pada berbagai jenjang ketenagakerjaan. Adanya dukungan secara hukum dan politik yang kuat dari pemerintahan baik di level desa maupun di atasnya juga merupakan kekuatan tersendiri yang ditandai oleh adanya perda di atas. Bugbug dengan pertanian, perkebunan dan baharinya memiliki asset yang tak ternilai yang dapat dikembangkan sebagai agrowisata, maupun wisata spiritual. Bahkan sebenarnya oleh beberapa hotel di Candidasa, sebenarnya sudah mengemas sedemikian rupa Bugbug ke dalam paket-paket yang mereka jual kepada tamu yang inhouse di hotel itu.  Secara ekonomi Bugbug sebenarnya sudah jauh berkembang walaupun belum sepenuhnya mengandalkan pariwisata sebagai lokomotipnya, hal ini dibuktikan dengan banyaknya berdiri koperasi yang sebenarnya dapat melebarkan sayapnya pada berbagai bidang usaha seperti jasa penyewaan kendaraan, pengelolaan sanggar seni tari dan tabuh, supplier bahan makanan dan minuman, supplier produksi ternak, supplier hasil pertanian dan perkebunan maupun sebagai penyedia atau vendor lainnya.
                                      
WEAKNESS ( KELEMAHAN )
Walau kebersihan secara umum sudah jauh sangat bagus, tetapi pada beberapa areal publik belum sepenuhnya warga menyadari kebersihan, kebersihan di Pamuduan, penataan pedagang di Sanghyang Ambu dan Bale Bengong (Rest area), kebersihan pasar desa adat, yang sebenarnya dapat menjadi daya tarik.  Kekhawatiran akan tergerusnya wilayah terbuka hijau (yang sebenarnya dapat menjadi daya tarik) di wilayah desa akibat membludaknya kebutuhan akan pemukiman, Jarak tempuh dari Bandara yang sedemikian rupa yang notabene dianggap sebagai jalur kering bagi pelaku pariwisata yang hanya berorientasi keuntungan mereka sendiri saja, tanpa adanya niatan yang tulus dan ikhlas untuk bersama-sama melakukan pengembangan suatu kawasan.  Belum memadainya ketersediaan akan air bersih yang dapat men-supplay kebutuhan domestik masyarakat Bugbug maupun kebutuhan pariwisata dan industri. Apakah keberadaan mata air di Telaga Kauh akan dimanfaatkan untuk men-supplay kebutuhan ini ? Tidak banyak yang tahu. Atau akankah investor dengan investasinya secara simultan juga akan mengembangkan teknologi penyulingan air laut menjadi air layak minum, juga tidak dapat diketahui secara pasti. Secara arsitektural keunikan palemahan Desa Adat Bugbug, yang dicirikan pada bangunan angkul-angkul sebagai ciri khas Bugbugan (termasuk di Prasi dan Timbrah) sudah semakin pudar. Ciri khas itu hanya dimiliki oleh keluarga di sebelah timur Pura Pasek dan sebagiannya lagi masih bisa dijumpai di Desa Perasi, yang lain sudah terlanjur mengikuti zaman. Takut dibilang kuno mungkin yah ..




OPPORTUNITY ( PELUANG )
Pengalaman pengembangan kawasan Wisata Candidasa harusnya menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam mengkaji keberadaan proyek pengembangan Pantai Bias Putih sebagai sebuah resort.  Secara ekonomi adanya persaingan yang tidak sehat antar pelaku pariwisata di area itu meruntuhkan image atau pencintraan kawasan ini sebagai kawasan wisata. Disinilah dilema pengembangan pariwisata berbasis kerakyatan (integrated  development) dan berbasis exclusive (enclave development). Pertanyaanya ; apakah kawasan Pantai Bias Putih ini akan dikembangkan secara integrated development atau enclave development ?. Apakah pengembangan model Amankila Hotel yang memiliki jaringan pemasaran dunia (yang melibatan masyarakat sekitar dalam operasional hotel dalam jumlah terbatas dan multiflier effect yang terbatas pula), ataukah akan melanjutkan pola pengembangan ala Candidasa yang seolah tidak terkoordinasi dan terkesan jauh dari penataan profesional yang dibuktikan dengan kumuhnya areal reklamasi yang sedikitpun tidak mengesankan itu adalah obyek wisata. Labuhan Amuk yang sudah ditetapkan sebagai pelabuhan kapal pesiar yang hanya berjarak 30 menit dari Bugbug, banyak kalangan berharap adalah merupakan kesempatan yang baik untuk “menjual” Bugbug termasuk berbagai fasilitas wisata yang disediakan di Bugbug dan sekitarnya.  Hanya saja bagaimana para pelaku pariwisata dapat dengan bijaksana tidak hanya menjual Bali Tengahan dan Selatan dalam kunjungannya, tapi juga dapat berkunjung secara penuh ke kawasan ini dengan berbagai kreasi yang dapat membuat kawasan ini juga mendatangkan keuntungan bagi seluruh stakeholders yang terlibat di dalamnya. Dilihat dari sisi accessibility, posisi Desa Pekraman Bugbug dengan kawasan Candidasanya masih lebih baik dibandingkan dengan kawasan Amed yang jaraknya kurang lebih 3 jam dari pusat pariwisata. Terumbu karang di kawasan Candi dasa yang tergerus akibat penambangan liar maupun abrasi di masa lampau harusnya dapat dikembalikan lagi dengan cara menanam terumbu karang baru dengan cara melakukan penanaman koral sebagaimana dilakukan di kawasan pantai di Bali Utara.

THREATHNESS ( ANCAMAN )
Tantangan yang menghadang di depan adalah bagaimana Desa Pekraman sebagai institusi dapat menjadi jembatan dan memiliki bargaining position dalam penyediaan sumber daya manusia, logistik, maupun sumber daya ekonomi lainnya. Bagaimana Desa Pekraman dapat meyakinkan komitmen investor menjabarkan multiflier effect positif bagi masyarakat Bugbug dalam pelestarian dan pengembangan seni, budaya dan tradisi Bugbug ?. Bagaimana investor dapat mewujudkan CSR (Company Social Responsibility)-nya kepada masyarakat Bugbug yang menjadi salah satu stakeholder atas kawasan itu.  Tantangan yang lebih hebat bukan hanya datang dari luar wilayah Desa Pekraman  Bugbug, seperti akan diserbunya Bugbug oleh penduduk pendatang, tetapi justru datang dari dalam wilayah sendiri.  Sebagaimana pengalaman-pengalaman desa lain yang sudah terlebih dahulu mengembangkan pariwisata di wilayahnya, berbagai konflik kepentingan kerapkali terjadi sehubungan dengan perbatasan wilayah maupun banjar yang ujung-ujungnya akibat dari tingginya orientasi materi dan uang yang melunturkan semangat menyama braya dan salunglung sabayantaka. Dalam konteks Bugbug potensi konflik perbatasan Bugbug dan Prasi layak untuk diantisipasi.  Dalam skala yang lebih kecil, secara phsikologis pengembangan pariwisata dapat merubah orientasi masyarakat sekitar yang sebelumnya memiliki ikatan sosio religius yang kuat menjadi berorientasi materi dan mendewakan uang.  Pemerkosaan terhadap alam dan lingkungan yang dapat menurunkan daya dukung lingkungan pada berbagai kasus juga tidak dapat dihindarkan. Pembuldoseran sisi barat Bukit Asah entah untuk peruntukan apa, dan dibangunnya villa di Tempek Nyuh Rawit Samuh, belum-belum sudah mengundang polemik. Terjadinya degradasi kualitas lingkungan akibat pengelolaan limbah yang tidak bertanggung jawab, maupun terkontaminasinya kawasan-kawasan suci yang seharusnya dilindungi juga sangat sulit untuk dihindarkan.  Seorang pejabat berwenang dalam sebuah pernyataan di Bisnis Bali pernah mengutarakan tidak akan mempromosikan dan tidak akan menjadikan Gumang sebagai obyek wisata, tapi pada kenyataannya oleh beberapa hotel di Candidasa Bukit Gumang dijadikan salah satu jujugan jalur trekking bersamaan dengan Tenganan dan Kastala, dapatkah kita membendung dan berusaha konsisten dengan situasi ini ?.  Pada berbagai kejadian, terpinggirkannya masyarakat sekitar dari hiruk pikuk gemerincing pariwisata yang memaksa mereka hanya menjadi penonton yang baik layaknya “tikus mati di lumbung padi”, coba tanyakan berapa persenkah warga Bugbug yang terlibat langsung dalam geliat pariwisata di Candidasa ?, berapa besarkah prosentase kontribusi stakeholders pariwisata di Candidasa bagi pengembangan ekonomi yang bisa dinikmati langsung oleh masyarakat Bugbug ?.  Tantangan yang paling menyedihkan adalah terkendalanya atau bahkan tertutupnya akses-akses menuju kawasan tujuan ritual yang sudah terlanjur dikuasai oleh investor yang notabene memiliki hak penuh atas wilayah itu termasuk membatasi atau bahkan membunuh hak-hak masyarakat dalam melangsungkan kegiatan ritualnya.
Di banyak kawasan tejadi konflik horizontal maupun vertikal, akibat terjadinya kesenjangan ekonomi dan sosial diantara para stakeholder yang berada pada inner pengelola kawasan (yang terkadang mengambil keuntungan berlebih untuk tidak mengatakannya serakah) dengan mereka yang merasa terpinggirkan dari hingar bingar gemerincing dollar pariwisata.
Sebagai kawasan yang mengandalkan alam sebagai daya tarik dalam hal ini pertanian, perkebunan dan baharinya, adakah kalangan generasi muda kita yang mau menekuni mata pencaharian di bidang ini guna menyokong keberlangsungan hidup sektor pertanian, perkebunan dan bahari ini ?.
Pada beberapa kawasan wisata seperti Besakih, Bukit Jambul, Bukit Putung, Sibetan, Amed, Tirta Gangga, Taman Sukasada Ujung, Candidasa, dan Padang Bai, sangat terlihat sekali bahwa pemerintah sebagai stakeholder setengah-setengah dalam mengelola kawasan yang sudah terbangun.  Memulai mungkin mudah, tetapi bagaimana dapat meneruskannya sehingga menjadi berkesinambungan bukanlah pekerjaan yang gampang. Setelah kawasan itu ditata dan ditetapkan sebagai obyek wisata, ternyata kegiatan pemeliharaan obyek sebagai produk menyangkut kebersihan maupun sikap mental masyarakat sekitar sangatlah jauh dari yang diharapkan.  Lihatlah bagaimana obyek wisata Besakih pernah diboikot oleh pelaku pariwisata akibat ulah guide lokal yang nakal. Penulis pernah menghadiri rapat dengan Bupati yang saat itu dihadiri pula oleh salah seorang anggota DPRD perwakilan setempat, solusi yang disampaikan begitu ideal, tetapi sangat lemah dalam implementasi, diakibatkan oleh slogan sapta pesona hanyalah pemanis bibir yang tidak membumi di kalangan masyarakat.  Tiadanya keuntungan langsung yang dirasakan masyarakat juga menjadi peletup ketidakpedulian masyarakat dalam pengembangan pariwisata di wilayahnya.  Begitu pula dengan kawasan Iseh dan Putung yang didengung-dengungkan menjadi kawasan wisata spiritual, tetapi dikeluhkan oleh salah seorang anggota DPRDnya yang konon sepi dari kunjungan. Mangkraknya beberapa hotel di kawasan Candidasa yang berubah menjadi kos-kosan dan menjadi rumah hantu alangkah baiknya juga diambil hikmahnya.
Yaaah…, jangan sampai kita hanya pandai membuat, tapi tidak mampu memeliharanya. Seperti halnya, kita hanya bisa merasakan nikmatnya menghamili istri kita dan melahirkan anak dari rahimnya, tapi ternyata tidak mampu untuk mendidik, membimbing dan membesarkannya secara baik.
Oleh : I Wayan Ardika